Di Yerusalem, Esthon Foenay Disangka Maradona, Baca Kisahnya!! 


Ayananews.com, Kota Kupang – Majalah TEMPO edisi tahun 80-an, memberi judul salah satu rubriknya; “Maradona Dari NTT.” Tapi di gambar rubrik, terpampang foto Esthon Foenay. Hidung lancip, mata terang dengan penglihatan yang lembut dan akrab. Ia punya wajah yang menampilkan keakraban visual dari berbagai sisi.

Saya membaca majalah ini (TEMPO) ketika masih di bangku SD. Tentu saya terperanjat dan gegas mencari tahu, siapa gerangan Maradona NTT itu. Ternyata yang dimaksud Eston Fonay. Ditahun 80-an, ia pernah berkunjung ke Yerusalem. Disana ia dikerumuni orang-orang di kota suci tiga agama (Kristen, Islam dan Yahudi). Ia pun kikuk. Heran tak karuan, orang-orang asing itu meminta foto bersamanya bak artis Hollywood.

Apa gerangan orang-orang itu mengerumuni, minta foto bareng dan minta tanda tangan. Dia baru tahu, ketika salah satu dari warga urban Yerusalem menyapanya “Maradona, yuk foto bersama kami.” Eston baru tahu kalau ia dikira Maradona. Legenda sepak bola dari Argentina“No, I am not Maradona. I am Indonesian” Pak Eston mencoba ingatkan orang-orang itu, tapi tetap saja ia dikerumuni. Bahkan berantrean.

Syahdan, Eston tetaplah Maradona dari NTT. Ia gesit dan lincah di medan politik. Kalah di Pilgub NTT sebelumnya, tak membuatnya berhenti. Ia tetap meliuk; dengan gaya tenangnya. Menerobos setiap tikungan politik yang panjang dan melelahkan. Seperti kata mantan timnas Argentina; Jorge Valdano, kalau Maradona adalah tipe pemain cantik. Tak seperti Messi yang main effisien.

Begitupun Eston, di medan politik, ia punya gaya politik sendiri. Santun, lincah, humbledan mampu masuk ke ceruk-ceruk sosial NTT yang ragam dengan langkah gontai khasnya. Nyaris tak ada musuh. Satu-satunya musuh Eston ialah; orang-orang yang membenci kesahajaan dan kesantunannya.

Salah satu kelebihan Eston adalah, kalau di suatu tempat, ia mampu menyapa dan bersalaman pada semua orang. Bukan salaman simbol. Salam satu orang sebagai simbol menyapa semua orang. Pasti ia menyalami satu per satu. Itu persis gaya pecicilan Diago Maradona.  Mata melerok ke semua orang bila dalam suatu acara. Lincah dan akrab dengan siapa saja melalui gesturnya. Eston setali tiga uang dengan Maradona. Sebelum merumput atau di tempat umum manapun, doyan bersalaman dengan setiap orang yang berpapasan. Bisa ramah kapan saja. Tak perlu momentum politik.

Eston punya mata yang tajam seperti Maradona. Mampu menangkap celah lawan sekecil apapun. Sebab itu, ia mampu mengambil angle yang tepat membobol gawang lawan. Bukan Maradona, kalau tidak melakukan gol-gol yang sulit menurut penonton. Begitupun Eston, penglihatannya yang detail, membuat ia mampu melihat persoalan NTT dari sisi paling kecil sekalipun. Oleh sebab itu, ia merasa orang NTT butuh pembangunan, dengan dasar human interest yang kuat. Bukan dengan marah-marah, apalagi memecah belah dan menyulut isu SARA.

Kali ini, kita boleh mengatakan, persis Maradona, bukan Eston namanya, kalau tak mampu membuat gol kemenangan di titik-titik laga politik paling rumit. Dalam perehalatan politik 2018, Eston-Chris, berhadap-hadapan dengan, kekuasaan (power) dan modal (capital).

Ia bertarung vias a vis dengan arus besar korporasi politik dan modal. Jokowi yang ancang-ancang melepaskan diri dari raksasa tirani trah Seokarno (Megawati cs dan PDIP), membuatnya seolah-olah akan diakuisisi partai Nasdem (Paloh cs); seturut ambisi Nasdem dengan geliat politiknya ingin menjadi pemilik saham mayoritas pemerintahan Jokowi pasca 2019. Dengan demikian, korporasi politik dan modal yang dimiliki Victory-Joss, menjadi kekuatan pemukul yang kapan saja bisa menggencet Eston-Chris.

Tapi apapun itu, Eston bukanlah pemain defensif. Ia akan membalas, lalu menyerang bertubi-tubi di titik-titik sulit. Ia bisa bikin serangan politik sistematis beruntun dengan sikap yang tenang dan santun. Menyerang di titik yang tak diduga lawannya. Bisa saja seperti Maradona yang membobol gawang lawan dengan tangan ajaibnya. Siapa yang mengira begitu? Pilgub NTT 2013, Eston membuat Frans Leburaya kikuk dengan perbedaan perolehan suara tipis pasca pleno KPUD NTT.

Topografi NTT yang kering dan panas, mengimpikan adanya sentuhan kesejukkan dari para pemimpinnya. Bukan pemimpin yang acap menampilkan hawa sangar dan membakar. Satu diantara para tokoh NTT yang memiliki gestur kepemimpinan yang mengayom; adalah Eston Fonay. Sebab itu, orang NTT yang berbudaya, santun bertutur dan humanis berlaku, adalah jalan terang yang mendudukkan Eston sebagai figur yang tepat memimpin NTT ke depan. Tak peduli berhadapan dengan korporasi modal dan politik.

Napoli yang letaknya di Region Campania selatan Italia, acap kali di pandang inverior oleh keperkasaan Roma dan Milan. Dipandang miskin dan terbelakang. Napoli sebelum datangnya Maradona, pernah mendapat julukan ‘I ciucciarelli‘ alias ‘Keledai Kecil’ dari ultra fans Napoli karena penampilan buruk Napoli di musim 1926/27. Julukan itu akhirnya pupus setelah Diago Maradona merumput di negeri asal pizza ini. Dan keledai kecil pun dijadikan maskot Napoli, yang diartikan sebagai “bermain dengan kebanggaan.”

Humble, lincah dan mudah akrab dengan sesiapapun, adalah modal fundamental kepemimpinan; sekaligus kebanggaan yang ada pada diri Eston. Dus, keperibadian Eston itu telah menjadi maskot milik semua orang NTT. Di Region Campania selatan Italia, para fans Napoli berbangga pada Diago Marado, di negeri Nusa Tenggara Timur kita berbangga pada “Maradona asal NTT; Eston Fonay.” Kelak, ia menjadi simbol kebanggaan orang NTT.

Sumber : Faktual.co.id –

Penulis : Munir Sara

*** Penulis adalah peminat citizen journalism

Comments 0

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Di Yerusalem, Esthon Foenay Disangka Maradona, Baca Kisahnya!! 

log in

reset password

Back to
log in
Choose A Format
Gif
GIF format